Aturan Pemakaian Tanda Baca dan Penulisan Angka

(Bahasa Indonesia). Pada ringkasan kali ini, Kita akan belajar salah satu topik materi pelajaran Bahasa Indonesia Kami akan memberikan pembahasan mengenai aturan pemakaian tanda baca dan penulisan angka atau lambang bilangan. Berilkut ini ringkasan pembahasannya:

Penggunaan Tanda Titik (.)
Untuk penggunaan tanda titik dalam tulisan, harus memenuhi aturan sebagai berikut:
  • Pada akhir kalimat yang bukan pernyataan atau seruan.
  • Pada akhir singkatan nama orang.
  • Pada akhir singkatan gelar, jabatan, pangkat, dan sapaan.
  • Pada singkatan kata atau ungkapan yang sudah sangat umum. Pada singkatan yang terdiri atas tiga huruf atau lebih hanya dipakai satu tanda titik.
  • Untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu.
  • Untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu
  • Untuk memisahkan angka ribuan, jutaan, dan seterusnya yang tidak menunjukkan jumlah
  • Tidak dipakai dalam singkatan yang terdiri dari huruf-huruf awal kata atau suku kata, atau gabungan keduanya, atau yang terdapat di dalam akronim yang sudah diterima oleh masyarakat.
  • Tidak dapat dipakai dalam singkatan lambang kimia, satuan ukuran, takaran, timbangan, dan mata uang.
  • Tidak dapat dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan, atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya.
  • Tidak dapat dipakai di belakang alamat pengirim dan tanggal surat atau nama dan alamat penerima surat.
  • Di belakang angka atau huruf dalam suatu bagian, ikhtisar, atau daftar.
Penggunaan Tanda Koma (,)
Penggunaan tanda baca koma, biasanya ditemukan dalam:
  • Dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan.
  • Untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi, melainkan, dan lain-lain.
  • Untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mendahului induk kalimatnya.
  • Tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat apabila anak kalimat tersebut mengiringi induk kalimat.
  • Dipakai di belakang ungkapan atau kata penghubung antara kalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya, oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi.
  • Dipakai di belakang kata-kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan, yang terdapat pada awal kalimat.
  • Untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat.
  • Dipakai di antara nama dan alamat, bagian-bagian alamat, tempat dan tanggal, nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan.
  • Dipakai di antara tempat penerbitan, nama penerbit, dan tahun penerbit.
  • Dipakai untuk memisahkan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.
  • Dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya, untuk membedakan dari singkatan nama keluarga atau marga.
  • Dipakai di muka angka persepuluhan dan di antara rupiah dan sen dalam bilangan.
  • Untuk mengapit keterangan tambahan dan keterangan aposisi.
  • Tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat apabila petikan langsung tersebut berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru, dan mendahului bagian lain kalimat.
Penggunaan Tanda Titik Koma (;)
Tanda titik koma dapat digunakan untuk:
  • Untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.
  • Untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam suatu kalimat majemuk sebagai pengganti kata penghubung.
Penggunaan Tanda Titik Dua (:)
Penggunaan tanda baca titik dua banyak ditemukan:
  • Pada akhir suatu pernyataan lengkap bila diikuti rangkaian.
  • Sesudah ungkapan atau kata yang memerlukan pemerian.
  • Dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan.
  • Jika rangkaian atau pemerian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan.
  • Di antara jilid atau nomor dan halaman, di antara bab dan ayat dalam kitab-kitab suci, atau di antara judul dan anak-anak suatu karangan.
Penggunaan Tanda Hubung (-)
Tanda hubung dapat digunakan untuk:
  • Menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh pengamatan baris.
  • Menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya, atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris.
  • Menyambung unsur-unsur kata ulang.
  • Menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagian-bagian tanggal.
  • Untuk memperjelas hubungan bagian-bagian ungkapan.
  • Untuk merangkaikan se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, ke- dengan angka, angka dengan -an, dan singkatan huruf kapital dengan imbuhan atau kata.
  • Untuk merangkaian unsur Bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing.
Penggunaan Tanda Tanya (?)
Tanda tanya dapat digunakan pada:
  • Akhir kalimat tanya.
  • Di antara tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau kurang dapat dibuktikan kebenarannya.
Penggunaan Tanda Seru (!)
Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan, atau yang menggambarkan kesungguhan, ketidakpercayaan, atau rasa emosi yang kuat.

Penggunaan Tanda Kurung ( )
Tanda baca kurung dapat digunakan untuk:
  • Mengapit tambahan keterangan atau penjelasan.
  • Mengapit angka atau huruf yang memerinci satu seri keterangan. Angka atau huruf itu dapat juga diikuti oleh kurung tutup saja.
  • Mengapit penjelasan yang bukan merupakan bagian integral dari pokok pembicaraan.
Penggunaan Tanda Garis Miring (/)
Tanda garis miring biasanya digunakan dalam:
  • Penomoran kode
  • Sebagai pengganti kata dan, atau, per, atau nomor alamat.
Penggunaan Tanda Petik Ganda ("...")
Tanda petik ganda digunakan untuk:
  • Mengapit petikan langsung berasal dari pembicaraan, naskah, atau bahan tertulis lain. Kedua pasang tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.
  • Mengapit judul syair, karangan, dan bab buku, apabila dipakai dalam kalimat.
  • Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung.
  • Mengapit istilah ilmiah yang masih kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus.
  • Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus.
Penulisan Angka dan Lambang Bilangan
  • Penulisan kata bilangan tingkat dapat dilakukan dengan cara, misalnya; Paku Bowono X, atau Paku Bowono ke-10.
  • Penulisan kata bilangan yang mendapat akhiran-an
  • Lambang bilangan yang dapat dinyatakan dengan satu atau dua kata, ditulis, dengan huruf kecuali jika beberapa lambang bilangan dipakai secara berurutan, seperti dalam perincian dan pemaparan.
  • Lambang bilangan pada awal kalimat ditulis dengan huruf. Jika perlu susunan kalimat diubah sehingga bilangan yang tidak dapat dinyatakan dengan satu dua kata, tidak terdapat lagi pada awal kalimat.
  • Angka yang menunjukkan bilangan bulat yang besar dapat dieja untuk sebagian supaya lebih mudah dibaca.
  • Untuk dokumen resmi, seperti akta dan kuitansi, bilangan tidak perlu ditulis dengan angka dan huruf sekaligus dalam teks.



0 komentar:

Post a Comment

Kepada para pembaca, jika ada sesuatu yang berkesan maka silahkan berkomentar