Situs Pustaka Belajar

Contoh cerpen tentang Fallacious

loading...
Advertisement


loading...

FALLACIOUS
            Hujan turun lagi. Tak cukup deras. Indah. Menyenangkan. Berdiri memandangi hujan dari jendela kamarku. Merasakan dinginnya hujan yang merasuki jiwaku. Menghanyutkan dalam lamunan hidup ini. Memutar ulang video hidup ini. Video yang akan terus tersimpan di dalam memori hidupku. Tak akan pernah bisa dilupakan. Tak akan.
            “Alin... Ngapain kamu hanya berdiri saja, melihat air hujan yang turun? Lebih baik kamu lihat jam deh. Sudah jam 06 lewat 15 menit. Kamu masih mau sekolah, kan?” Tegur Kak Fina.
            “Hah? Oh iya. Yaudah kak, kakak turun duluan aja, aku mau dandan dulu. Hihi..” Ujarku cengegesan.
            Sebenarnya aku tidak perlu dandan. Untuk apa aku mempercantik diriku, namun penyakit ini terus menghabisi diriku. Penyakit yang sudah aku derita sejak tahun lalu. Penyakit yang hingga sekarang tak pernah membuatku percaya ini terjadi padaku. Penyakit yang memburamkan penglihatanku akan masa depan. Memburamkan hidup ini.
            Aku hanya mengenakan liptint berwarna peach dibibirku supaya tidak terlihat pucat. Mengenakan sedikit bedak, mengambil tas, lalu menuju ke ruang makan. Di ruang makan, Kak Fina sudah siap dengan sarapan sehatnya dan juga senyum manisnya.
“Pagi, kak.” Sapaku.
            “Pagi, sayang. Kamu sarapan dulu, trus jangan lupa obatnya diminum ya.” Kalimat yang selalu dilontarkan Kak Fina setiap pagi.
            “Iya, kakakku tercintaaaa...”
            “Oh iya, Lin. Nanti kakak ada acara, jadi gak bisa jemput kamu. Kamu naik taksi aja, ya. Nanti kakak kasih uangnya.” Timpal Kak Fina.
            “Acara apa, kak?” Tanyaku.
Kakakku seorang designer sukses. Dia punya butik yang telah bercabang di beberapa kota besar di Indonesia.
            “Ada fashion show beberapa koleksi baju kakak. Tenang... Kemungkinan pulangnya gak terlalu malam. Makan siangnya udah kakak siapin. Kakak pulang sebelum jam makan malam, kok.” Jelas Kak Fina.
            “Ohhh.. Berangkat, yuk, kak. Udah jam 06 lewat 30 menit nihh.” Ajakku sembari melihat jam tangan berwarna hijau tosca milikku.
            “Yaudah. Kamu tunggu diluar dulu, kakak mau beresin meja makan.” Ujarnya sambil mengambil beberapa piring kotor.
            Jujur, aku kasihan dengan kakakku yang harus mencari uang untukku, lalu mengerjakan pekerjaan rumah. Aku selalu ingin membantunya. Namun, Kak Fina selalu marah kepadaku. Setiap aku ingin membantu, ia pasti berkata, “Gak usah, sayang. Kakak bisa sendiri. Lagipula, kan, kamu gak boleh capek.” Lagi-lagi karena penyakit ini...
            Tak lama, Kak Fina keluar dari rumah. Ia segera mengunci pintu, lalu mengedipkan matanya dengan maksud menyuruhku masuk ke mobil. Aku segera masuk ke mobil berwarna hitam pemberian Mama dan Papa untuk Kak Fina ini.
            Setelah menempuh perjalanan selama 10 menit, mobil yang kutumpangi ini sudah berhenti di depan gerbang sekolahku. Aku segera pamit kepada Kak Fina, lalu keluar dari mobil, memasuki sekolahku.
            Tiba-tiba seseorang menepuk pundakku dari belakang.
            “Mmm... Maaf, gue mau tanya. Ruang wakil kepala sekolah dimana, ya?”
            Dari pertanyaan yang dilontarkannya, aku yakin laki-laki ini anak baru. Tinggi, putih, ganteng. Oh My God!Siapa dia?
            “Hellooo..” Tanpa sadar aku melamun.
            “Eh.. Mmm.. Itu.. Lurus, trus belok kiri. Ruangannya di samping ruang kepsek. Ada papan nama ruangannya, kok.” Jelasku.
            “Oh.. Thanks yaa..” Ia langsung berjalan pergi mengikuti arahanku tadi.
            “Eh.. Eh.. Tunggu! Lo anak baru, ya?” Aku memberanikan diri untuk bertanya.
            “Iya.” Dia segera berhenti lalu berbalik badan.
            “Pindahan dari mana?” Tanyaku penasaran.
            “SMA Putra Bangsa” Jawabnya ramah.
            Kringggggg!!!! Tiba-tiba bel berbunyi. Hufftt.. Padahal, baru aja mau gue ajak kenalan.
            “Oh. Yaudah kalau gitu. Gue ke kelas duluan ya.” Aku segera berlari kecil menuju kelas.
            Di kelas, aku duduk sendiri. Murid di kelasku jumlahnya ganjil, dan aku yang harus duduk sendiri. Jam pelajaran pertama diisi oleh guru matematika yang juga wali kelasku, Bu Aris. Namun, Bu Aris belum masuk ke kelasku. Tak biasanya Bu Aris terlambat begini...
            Setelah hampir 15 menit kelas berisik, akhirnya Bu Aris datang. Namun, Bu Aris tidak sendiri. Bu Aris bersama....
            “Assalamualaikum.” Bu Aris memberi salam.
            “Waalaikumsalam” Ujar para murid serempak.
            “Maaf, ya, ibu telat. Kalian akan punya teman baru. Dia pindahan dari Bandung. Namanya Kelvin. Kelvin, kamu duduk di samping Alin, ya.” Bu Aris menunjuk bangku di sampingku.
            “Iya, bu” Kelvin segera berjalan ke arahku.
            Oh.. Jadi cowo ganteng ini namanya Kelvin, toh.. Yes! Bisa PDKT nihhh.. Gumamku dalam hati.
            “Eh, lo lagi! Nama lo tadi siapa?” Tanya Kelvin.
            “Alin.” Jawabku ramah. Kelvin hanya mengangguk-angguk saja.
            Bu Aris segera memulai pelajaran. Selama pelajaran, aku jadi gak fokus. Selalu terbayang-bayang dengan wajah ganteng Kelvin. Sedangkan Kelvin, dia dengan serius memperhatikan Bu Aris yang sedang mengajar. Kayaknya, nih cowo pinter juga, deh. Hatiku jadi makin berbunga-bunga.
            Biasanya jam Bu Aris berlangsung sangat lama. Namun, hari ini sepertinya terlalu cepat. Kelvin benar-benar mengubah segalanya...
            “Woy! Ngelamun mulu! Mikirin apaan, sih?” Kelvin membuyarkan lamunanku.
            “Eh.. Mmm.. Ini.. Soal Bu Aris tadi susah banget. Bingung gue.” Jawabku terbata-bata.
            “Jadi dari tadi lo ngelamunin soal ini. Ini tuh gampang banget. Sini gua ajarin.” Kelvin langsung menarik buku catatanku lalu mengajariku.
            Seketika, aku merasa melayang di udara. Tuh, kan, bener. Dia juga pinter. Lo gak usah ajarin soal ini. Gue udah paham. Ajari gue cara untuk mencintai lo, Vin...
            “Woy! Ngerti, gak?” Kelvin membuyarkan lamunanku lagi.
            “Eh.. Mmm.. Ngerti.. Mmm.. Makasih ya” Jawabku terbata-bata. Lagi.
            “Eh, kan gue baru pindah kesini. Nanti pas pulang sekolah, lo mau gak temenin gue ke toko buku? Gue gak tau toko buku deket sini. Mau gak?” Tanya Kelvin.
            Yes! Pas banget! Kak Fina, kan, lagi ada acara, jadi gak repot izinnya.
            “Yaudah, gue mau. Kebetulan juga hari ini gue gak dijemput.” Jelasku.
            “Ok!” Kelvin mengedipkan sebelah matanya. Membuatku makin melayang di udara.
** *
Kringgggg!!! Bel pulang sekolah yang dari tadi ditunggu akhirnya bunyi juga. Aku langsung memasukkan buku-buku milikku kedalam tas.
“Jadi, kan, lin?” Tanya Kelvin.
“Jadi. Yuk!” Ajakku.
“Eh, tapi kita makan siang dulu, ya. Gua udah laper banget, nih. Ada gak restoran yang enak deket sini?” Tanya Kelvin sambil memegangi perutnya.
“Ada. Satu arah juga, kok, sama toko bukunya.”
“Ok! Yuk!” Aku dan Kelvin langsung jalan berdua keluar dari kelas menuju mobil Kelvin.
Di mobil Kelvin, kita banyak berbincang-bincang. Bertanya tentang satu sama lain. Tertawa. Bercanda. Melupakan segalanya. Merasa bahwa dunia hanya milik kita berdua. Saat di restoran pun tak kalah serunya.
Di toko buku, Kelvin sangat serius memilah-milih buku.
“Cari buku apa, Vin?”
“Beberapa buku pelajaran tambahan, sama buku pengetahuan umum.” Jawabnya sambil memilah buku.
Aduhh.. Kelvin makin ganteng aja kalau lagi bingung milih buku gitu.
“Lin? Udah milih bukunya? Gue udah, nih.” Kelvin mengejutkanku.
“Udah. Yuk, ke kasir!” Ajakku.
Karena terlalu asik memikirkan Kelvin, aku sampai tidak sadar akan 2 hal. Yang pertama, aku tidak sadar kalau hari sudah senja. Jam di tanganku menunjukkan pukul 4 sore. Yang kedua, diluar sedang hujan. Ternyata, perasaan ini sampai menulikan telingaku. Hujan sederas ini aku sampai tidak mendengarnya.
“Lin, lo tunggu sini, ya.” Kelvin memberikan plastik berisi buku yang kami beli tadi, lalu segera menuju ke parkiran mobil.
Tak lama, mobil Kelvin berhenti di depanku. Aku segera masuk ke mobil Kelvin. Kelvin basah kuyup karena hujan-hujanan dari depan toko buku hingga ke parkiran mobil. Biarpun basah kuyup, masih tetep ganteng aja, sih, lo...
Aku segera menunjukkan jalan pulang ke rumahku. Kelvin mengendarai mobilnya sesuai dengan arahanku. 20 menit kemudian, mobil Kelvin berhenti di depan rumahku.
“Makasih ya, Lin, buat hari ini.” Kelvin memberikan senyum manisnya.
“Iya. Maksasih juga, ya, makan siangnya dan bukunya.” Aku balik memberikan senyum termanisku.
“Eh, Lin, tunggu! Muka lo kenapa pucat gitu?” Kelvin memperhatikan wajahku.
“Hah? Enggak, kok. Gue gak kenapa-napa. Gue duluan, ya.” Aku segera turun dari mobil Kelvin.
Belum sempat aku membuka pintu rumahku, aku merasa pusing. Pusing sekali. Dan tiba-tiba, semuanya gelap.
** *
Aku membuka mataku pelan-pelan. Ada Kak Fina dan Kelvin disampingku.
“Kak? Aku dimana? Aku kenapa?” Tanyaku heran.
“Kamu dirumah sakit. Dokter bilang, penyakit kamu makin parah. Kamu pasti terlalu capek dan gak minum obat.  Apa aja, sih, yang kalian lakukan berdua?” Kak Fina menangis.
“Maaf. Ini semua salah saya. Saya yang mengajak Alin ke toko buku. Saya gak tau kalau Alin gak boleh terlalu capek.” Kelvin berbicara dengan nada sedikit bersalah.
“Eh, Kelvin! Dengar, ya! Kakak gak suka kalian berdua berteman, apalagi lebih dari itu! Kamu bukan anak baik-baik! Kalau memang kamu anak baik-baik, kamu sayang sama Alin, kamu seharusnya jaga dia sebaik-baiknya! Enggak ngajak Alin pergi lama-lama!” Kak Fina memarahi Kelvin sambil nangis.
            “Udahlah, kak. Ini semua bukan salah Kelvin. Ini salah aku. Aku yang gak ingat penyakit aku.” Aku berbicara dengan Kak Fina dengan nada sedikit membentak.
            “Lebih baik kamu pulang! Kakak gak suka kamu masih dekat dengan Alin!” Kak Fina menunjuk pintu keluar ruangan.
            “Ok, kak. Saya akan pulang. Tapi, saya laki-laki yang bertanggung jawab. Tunggu saya besok!” Kelvin pergi dengan kalimat yang menggantung.
** *
            “Alin! Kakak punya kabar bahagia. Ada yang ingin mendonorkan hatinya untuk kamu! Siang ini, kamu akan operasi, dan kamu akan sembuh. Kamu siap, kan?” Kak Fina mengejutkanku saat aku bangun.
            “Siapa, kak?” Tanyaku heran.
            “Pendonor tidak mau dikasih tau identitasnya. Yang terpenting, kamu siap, kan?” Tanya Kak Fina bersemangat.
            “Siap, kak! Siapapun dia, aku berterimaksih banget ya. Dia baik banget!” Aku ikut bersemangat. Kak Fina memberikan senyum manisnya.
* * *
            Aku membuka mataku. Ada Kak Fina.
            “Hai, sayang. Gimana, kamu agak enakan?” Tanya Kak Fina.
            “Mmm.. Iya, kak. Kak.. Mmm.. Kelvin gak jenguk aku?” Tanyaku heran. Tiba-tiba, aku ingat dengan Kelvin.
            “Mmmm.. Dia.. pulang ke Bandung.” Jawab Kak Fina terbata-bata.
            “Loh, kok gitu, sih? Dia seharusnya jenguk aku tiap hari. Nerima aku apa adanya. Sekarang, kan, aku udah sehat. Cuma gara-gara aku penyakitan, dia ninggalin aku. Jahat! Gue benci sama lo, Vin!” Kesalku.
            “Kamu jangan benci gitu sama dia. Dia orang terbaik buat kamu.”
            “Maksud, kakak?” Tanyaku heran.
            Bukannya menjawab, Kak Fina malah meninggalkanku sendirian.
* * *
            Setelah beberapa hari dirawat, aku akhirnya dibolehkan pulang ke rumah. Betapa rindunya aku dengan rumah ini. Sekarang, aku benar-benar ingin melupakan Kelvin. Namun, tak pernah bisa. Entahlah. Seperti ada yang selalu membuatku mengingat dan mengingatnya lagi.
            Aku mengecek setiap sudut dirumah. Melepaskan rasa rinduku. Yang pertama, adalah kamarku. Tidak ada yang berubah. Lalu, yang kedua, kamar Kak Fina. Aneh. Banyak foto-foto di kamar Kak Fina. Foto- foto yang dibingkai indah, diletakkan di atas meja. Foto seorang laki-laki sepertinya. Aku mendekati salah satu foto itu. Astaga! Foto Kelvin! Banyak sekali! Ada sebuah surat tergeletak dibawah salah satu foto Kelvin. Aku membuka surat itu.
Dear Alin,
Mungkin saat kamu membaca surat ini, aku sudah tidak ada lagi. Aku sengaja tidak memberitahumu terlebih dahulu, karena aku hanya ingin kamu tidak memikirkan ini. Aku hanya ingin membuktikan sama kamu dan kakakmu, kalau hanya aku yang pantas untukmu. Aku yang terbaik untukmu. Gak ada yang lain. Aku sudah memikirkan ini matang-matang. Semua ini kulakukan karena aku sayang sama kamu. Sejak pertama kita bertemu, aku sudah melihat sesuatu yang berbeda pada diri kamu. Entah apa itu. Biarpun aku udah gak disamping kamu lagi, aku akan selalu jagain kamu. HATI AKU, SELALU ADA BUAT KAMU...
Salam cinta dan sayang,
Kelvin
            Ini tidak mungkin. Jadi, Kelvin yang mendonorkan hatinya untukku?
            “Oh. Kamu udah baca surat itu, ya? Maaf, kakak gak kasih tau kamu dari awal. Kelvin yang suruh. Awalnya, kakak gak mau Kelvin mendonorkan hatinya buat kamu, karena kakak tau kamu sayang sama dia. Tapi, Kelvin maksa. Dia ingin buktiin kalau emang dia yang terbaik buat kamu. Kakak masang foto Kelvin di kamar kakak, sebagai tanda kalau kakak juga yakin, Kelvin yang terbaik untuk kamu.” Kak Fina memelukku erat-erat.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Contoh cerpen tentang Fallacious

0 komentar:

Post a Comment

Kepada para pembaca, jika ada sesuatu yang berkesan maka silahkan berkomentar