Situs Pustaka Belajar

Contoh cerpen tentang Happy Family

loading...
Advertisement


loading...

 Contoh cerpen tentang Happy Family

“Tapi ayah kan udah janji buat jemput Kania hari ini.”

“Iya Kania, tapi meeting nya juga mendadak dan penting! Gimana kalo kak Alfa aja yang jemput?”

“Kak Alfa? Mau seribu kali Kania telfon juga enggak bakal diangkat sama My Busy Brother. Ya udah, yah. Biar Kania pulang sendiri, walau nunggin angkot seribu tahun lamanyaaa.” Telfon pun langsung kumatikan. Begitulah perdebatan yang biasa terjadi antara aku, ayah, dan tentu saja dengan kakakku tercinta, kak Alfa.

Dulu sebelum kecelakaan yang menyebabkan mama meninggal, kami adalah keluarga yang harmonis bahkan sangaat bahagia diantara keluarga yang lain. Tapi setelah meninggalnya mama everything has change. Ayah yang dulu selalu bisa menyempatkan makan malam dirumah meskipun sibuk. Sedangkan ayah yang sekarang adalah ayah super sibuk dengan pekerjaannya tanpa mempedulikan anak-anaknya. Alhasil, kak Alfa yang dulu kusebut malaikat pelindungku berubah menjadi monster yang kelaparan, galak, egois, dan menyebalkan. Mereka berdua yang aku harapkan bisa memberikan kasih sayang seperti mama malah sibuk dengan urusan masing-masing. Semua yang berubah ini membuatku menjadi seorang yang dingin, ketus, dan labil, begitu orang lain bilang. Namun semua sifat burukku itu, seketika sirna saat aku bersama dengan Dino, sahabatku yang selalu menjadi pendengar dan penasehat yang sangat baik. Kami satu sekolah saat SD dan SMP. Tapi di SMA ini kami berbeda sekolah, meskipun begitu dia setia menungguku di depan gerbang saat kuminta untuk dijemputnya.



“Hallo, Dino kamu dimana?”

“Hei, Kania! Kenapa emangnya?”

“Biasa ayah enggak jadi jemput, padahal aku pengin ke toko buku. Kamu dimana sekarang, Dino?”

“Oh seperti itu. Aku ada di belakangmu.” Aku pun langsung menengok kebelakangku, dan terkejut sembari menutup telfon ketika kudapati Dino yang tersenyum dengan motornya.

“Secepet itu kamu datang? Tahu darimana aku udah pulang? Kan aku belum telfon kamu!”

“I always here everyday, Kania. So, jadi enggak ke bookstore nya?” katanya sedikit menggoda. Membuatku menghela nafas.

“Okey, fine. Terimakasih sudah setia menunggu saya sampai anda berlumut, Dino.” Balasku.

“Sama-sama, Kania. Come on “cold girl” we should go now!” katanya semangat sambil memberikan helm kepadaku. Aku hanya membuat senyum paksa dan naik di jok belakang motornya.



Saat di toko buku, aku merasa seperti anak kecil yang sedang bahagia karena dituruti keinginannya. Aku sangat suka melihat buku-buku tersusun rapi dan warna warni. Dino selalu menemaniku ke toko buku, meskipun tidak membeli buku tapi hanya melihat-lihat saja. Jika tertarik maka akan kubeli.

“Jadi kenapa ayahmu enggak jadi jemput?” katanya saat menemaniku melihat-lihat novel.

“Important meeting. Biasalah pasti kayak gitu.”

“Terus gimana? Udah punya temen, Kan?”

“I haven’t friends even a friend. Mereka lihat aku aja sinis banget. Mereka itu egois. Enggak enak temenan sama orang yang egois.” Aku mendengar dengusannya.

“Masa sih? Pasti ada kok yang baik, trust me!” Aku mengangguk lemah dan berharap yang mengucapkan seperti itu adalah kakakku. Selama ini Dino yang menguatkan aku setelah mama meninggal.



Hari ini aku malas sekali melangkahkan kaki masuk kelas. Pikiranku sudah yang macam-macam. Membayangkan tatapan sinis mereka di kelas saat aku masuk kelas. Namun, pikiranku itu salah. Saat masuk kelas, tiba-tiba..

“Hai Kania! Selamat pagi!” sapa Iris kepadaku. Aku refleks langsung terkejut dan beribu pertanyaan tersimpan di benakku.

"Mmm se..lamat pagi, Iris!” jawabku agak canggung.

“Duduk disebelahku, yuk!” dia menuntunku kearah mejanya. Aku yang masih bingung hanya mengikutinya.



“Iris, kenapa kamu aneh sekali hari ini?” tanyaku spontan saat kami berdua ke kantin.

“Hmm begini. Aku memperhatikanmu dari awal. Kamu selalu duduk sendirian, tidak mau bergabung dengan teman yang lain, dan pendiam sekali. Itu yang membuatku penasaran kepadamu. Sebenarnya apa yang terjadi denganmu? Mungkin aku bisa membantumu dan menjadi teman curhatmu. Kamu bisa menumpahkan keluh kesah kepadaku apapun itu. Orang-orang bilang aku ini pendengar yang baik lho.” Jelasnya panjang lebar.

“Terima kasih, Iris. Sebenarnya aku masih belum bisa melupakan kejadian kecelakaan yang menyebabkan mama meninggal. Ini yang membuatku jadi lebih tertutup, pendiam, dan dingin. Maaf ya dan tolong jangan dimasukkan hati, aku orangnya suka refleks langsung bilang tanpa mikir.” Kataku tenang dengan senyum kepada Iris. Sejak tadi kami bercerita dan aku merasa nyaman berteman dengan Iris.

“Jadi begitu ceritanya. Menurutku itu wajar dan aku bisa bantu kamu ngelupain kesedihan itu. Tapi aku yakin kok, pasti ada sisi baik dari kamu.” Katanya lembut sambil memegang kedua bahuku. Aku pun tersenyum lagi dibuatnya.



Aku keluar dari gerbang sekolah dengan hati yang bahagiaaa sekali. Baru saja Ayah telfon dan berkata akan menjemputku siang ini. Hal yang jarang sekali terjadi, akhirnya terjadi lagi. Seperti layaknya anak kecil yang berlarian keluar gerbang sekolah untuk menunggu jemputan orang tuanya, itulah aku sekarang

Sudah pukul 4 sore, berarti aku sudah menunggu ayah selama 3 jam. Entah sudah berapa kali aku menelfon ayah dan entah berapa kali juga ayah mengucapkan “sebentar lagi ya, Kania!” Tapi aku masih setia menunggu jemputan ayah walaupun sampai tempat ini benar-benar sepi.

“Udah berapa jam nunggu?” aku tersentak kaget dan menengok ke sumber suara.

“Kak Rudi? Kakak kok belum pulang? Lagi nunggu dijemput juga?” tanyaku langsung.

“Whoa, santai dong tanyanya! Tadi masih ada urusan di OSIS. Mungkin iya, mungkin enggak juga. Oh iya nama kamu siapa ? Aku lupa." Ujarnya sambil mengambil duduk disampingku.

"Kania" jawabku singkat.

"Jadi ini toh anak IPS yang terkenal dinginnya. Tapi kayaknya kamu enggak dingin deh. Kalo dingin kan pasti kamu udah membeku deh sekarang.” Candaan garingnya membuatku menahan tawa dan akhirnya tidak bisa lagi kutahan. Tiba-tiba saja mobil hitam yang menurutku milik ayah lewat di depan kami. Aku pun berpamitan kepada kak Rudi dan masuk ke jok samping pengemudi mobil.

“Siapa tuh?” goda ayah tiba-tiba.

“Senior kok, ayah.”

“Senior sama junior berduaan gitu?”

“Ayaah, sekolahnya memang sudah sepi dan bukan salah sekolah yang sepi kayaknya. Tapi salah yang jemput mungkin.” Aku sedikit menyindir karena kesal.

“Ya udah deh. Maafin ayah ya, Kania!”

“Iya, yah. Udah biasa kok.”



Aku sengaja untuk berangkat pagi tadi dengan sepeda, karena hari ini aku ingin membuat kejuatan untuk ayah dan kak Alfa. Aku juga tidak ingin bergantung terus pada Dion, kasihan dia sudah mengantarku kemana-mana tanpa upah pula. Kejutan ini karena mereka berulang tahun di hari ini. Sayangnya hari ini aku ada tambahan pelajaran, jadi aku pulang pukul 4 sore. Sepulang sekolah aku langsung menuju toko kue yang tidak jauh dari SMA ku tentu saja dengan sepeda. Aku tidak peduli jalanan dengan debu dimana-mana yang sudah menodai bajuku. Kukayuh sepeda dengan cepat agar sampai tujuan dengan cepat. Akhirnya tidak sampai 5 menit, aku sampai di toko kue itu. Betapa pelupanya aku, jika membeli kue tart harus memesan dulu. Yah, alhasil aku harus menunggu 1 jam sampai kue tart nya jadi.

1 jam kemudian, kue tart sudah terbungkus dengan rapi dan indahnya. Aku segera membayar dan buru-buru kunaiki sepeda untuk segera sampai ke rumah. Semangatku menggebu-gebu untuk segera sampai kerumah dan memberikan kejutan untuk ayah dan kak Alfa. Namun, tiba-tiba…Bruuk… Aku tidak melihat ada batu di depan ku, sepeda yang kubawa membuatku terjatuh dan kakiku pun berdarah. Tapi aku tidak peduli dengan itu. Aku segera membuka kotak yang berisi kue tart tadi dan bersyukur karena kue tart nya masih utuh. Tanpa peduli orang-orang memperhatikanku, sepeda yang terjatuh bersamaku tadi langsung kutegakkan kembali. Tak kapok dengan kejadian baru saja terjadi, aku kembali mengayuh dengan cepat sampai di halaman rumahku. Dengan tergesa-gesa, sepeda kutaruh sembarang, segera kurapikan diriku, dan menyiapkan lilin diatas kue tart yang bertuliskan “Happy Birthday Dad and Happy Birthday Brother”. Tak sabar aku mengetuk pintu. Tapi pintu itu malah terbuka, membuatku mundur ke belakang. Ternyata ayah dan kak Alfa yang sudah berpakaian rapi. Dengan ekspresi nervous karena gagal memberikan surprise, aku mengucapkan…

“Happy Birthday Dad and Happy Birthday My Brother.” Ucapku setengah berteriak sambil mengangkat kue tart. Mereka pun sama terkejutnya dengan aku.

“Kania darimana saja kamu? Lihatlah dirimu yang penuh dengan debu! Ayah ada meeting mendadak. Kita rayakan besok saja ya.” Kata ayah sembari pergi meninggalkan aku yang masih mematung.

“Kak Alfa juga ada janji sama temen. Jagain rumah ya!” katanya santai dan bersikap seperti ayah tadi. Aku sudah menyiapkan semuanya tanpa ada yang menghargai dan aku sudah muak.

“Okey, Kania tahu kalian sibuk.” Teriakku sekencangnya, membuat mereka berdua menoleh.

“Sibuk dengan pekerjaan dan teman-teman sampai tidak pernah ada di rumah sepanjang hari. Kania heran sebenarnya kesibukan apa yang buat ayah sama kak Alfa jadi kayak gini. Bahkan untuk menoleh ke Kania aja jarangnya minta ampun. Kania tahu kesibukan yang dilakuin ayah sama kak Alfa itu buat ngelupain kesedihan tentang mama, kan? Semua juag sedih ayah, kak Alfa dan mama enggak akan pernah bisa dilupain. Setelah mama meninggal, Kania sadar supaya bisa buat keluarga ini jadi harmonis lagi. Tapi kenyataannya kalian semua egois. Enggak ada yang mau dengerin cerita Kania, enggak ada yang nanyain kabar Kania, enggak ada yang peduli sama Kania. Kania enggak butuh uang saku yang lebih dari ayah, Kania butuh ayah sama kak Alfa saat Kania butuh atau paling enggak kita bisa makan malam bareng setiap hari. Itu aja kok. Dan ini Kania buat surprise buat ayah sama kak Alfa supaya sadar kalo Kania sayang banget sama keluarga ini. Tapi semua usaha Kania enggak dihargai sama sekali. Kania cuma pengin semuanya kembali kayak dulu lagi. Itu aja, yah, kak. Selamat bersenang-senang orang-orang sibuk.” Kata-kata itu terucap begitu saja dari mulutku. Selesai menumpahkan semuanya itu, aku berlari tanpa mempedulikan apapun menuju kamarku. Aku menangis tersedu-sedu sambil memegangi lututku yang terluka tadi. Sempat terdengar suara ayah sambil mengetuk pintu kamarku. Namun, tak berlangsung lama suara itu sudah hilang diganti dengan suara mesin mobil yang pergi menjauh. Aku mencoba untuk menenangkan diriku sendiri dan yakin jika aku tidak seorang yang cengeng. Setelah tangisku mulai reda, aku memutuskan untuk membersihkan diri dan membiarkan mimpi membawaku kedalamnya.

Esok paginya aku terbangun karena cahaya matahari yang menyilaukan mata. Saat kubuka benar-benar mataku, kudapati ayah dengan celemek masak dan kak Alfa dengan nampan yang berisi segelas air putih dan sepiring nasi goreng yang baunya menyebar ke seluruh kamarku. Aku masih terheran segera mengumpulkan nyawaku.

“Selamat pagi, Kania!” sapa mereka berdua kompak.

"Se..la..mat pagi, ayah dan kakak !" ucapku masih terbata dan bingung apalagi setelah kejadian kemarin malam yang membuatku semakin awkward.

"Ini nasi goreng istimewa hanya untukmu dan segelas air putih karena katamu itu lebih sehat daripada minuman lain." Jelas kakak dan memberiku nampan itu.

"dan jika kamu ingin tahu, ayah yang membuat nasi goreng lezat ini." Tambah ayah. Aku masih belum berbuat apa-apa dan memberikan tatapan "ada apa ini" kepada kedua laki-laki ini.

"Hmm.. Ayah dan kak Alfa ingin meminta maaf kepada Kania. Karena selama ini tidak pernah memperhatikan Kania. Ayah tahu ayah ini adalah ayah yang tidak…”

“Ayaah! Apa ayah tahu? Ayah adalah laki-laki terhebat pertama yang pernah Kania kenal.” aku segera memotong perkataan ayah. Aku tidak ingin ayah menyalahkan dirinya sendiri.

“Kan, kak Alfa juga minta maaf ya. Kakak…”

“Kalo gitu Kania juga minta maaf karena kemarin sempat emosi ke ayah sama kak Alfa. Nah sekarang kita semua baikan yaa!”

“Okay deh. Sekarang saatnya Kania cobain nasi goreng buatan ayah!”

“Gini aja, kita makannya bareng-bareng aja di ruang makan, gimana?” saranku.

“That’s good idea. Let’s go!” kak Alfa yang bersemangat memimpin perjalanan kami sampai ke ruang makan. Aku merasa semua telah kembali, terutama KEBAHAGIAAN walaupun tanpa mama. Tapi aku yakin mama pasti senang melihat kami rukun seperti ini. Setelah makan, ayah mengeluarkan kotak yang baru kusadari adalah kue tart kemarin dari dalam kulkas. Canda dan tawa kami pun kembali juga. Tiada yang bersedih lagi, karena semuanya telah berubah menjadi kebahagiaan yang utuh.

The true happiness come from our family.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Contoh cerpen tentang Happy Family

1 komentar:


  1. Penawaran Paid Review
    Hallo,

    Saya Soffian dari UrbanIndo.com situs jual beli properti No. 1 di Indonesia. Dari sekian banyak blog yang pernah saya kunjungi, blog Anda adalah salah satu blog yang membuat saya tertarik untuk berkunjung dan membaca setiap konten yang ada pada blog Anda.
    Saat ini kami sedang mencari blogger yang mempunyai blog berkualitas tinggi seperti blog, dengan ini kami mengajak Anda untuk bekerja sama dengan kami untuk melakukan paid to review. Kami akan sangat senang sekali jika Anda tertarik.
    Jika Berminat silahkan mengirimkan email ke :soffian@urbanindo.com

    Salam

    Soffian

    ReplyDelete

Kepada para pembaca, jika ada sesuatu yang berkesan maka silahkan berkomentar