Situs Pustaka Belajar

Contoh Cerpen tentang kehilangan

loading...
Advertisement


loading...

Contoh Cerpen tentang kehilangan


“LOSE”

Aku kehilangan sosoknya.

Sosok paling ceria yang pernah kutemui.

Dia satu-satunya gadis yang paling mengertikanku, meskipun aku selalu mengabaikannya.

Dia yang masih tetap tersenyum, meski aku menyakiti hatinya.

Dia yang selalu mengoceh sepanjang waktu, meski aku hanya diam tak memperhatikan ucapannya.

Dia adalah gadis yang sangat mencintaiku, meski dulu aku tak menyukainya.

Aku tak menyukai tingkahnya yang baik padaku.

Aku tak menyukai senyumnya yang terkadang tampak menyebalkan di mataku.

Aku tak menyukai suara rajukan manjanya yang selalu membuatku menutup kedua telingaku saat mendengarnya.




Tapi. . . . . Kini aku merindukannya.

Aku merindukan sosoknya, setelah dia pergi.

Dia pergi sebelum aku memberitahu yang sebenarnya padanya.

Pada. . Kania.




—oOo—




Namanya Kania Tasaya Kaneta. Aku mengenalnya sejak kami sekelas, tepatnya 2 tahun yang lalu. Entah kebetulan macam apa, yang membuat aku selalu sekelas dengannya hingga kami kelas 3 SMA. Itulah yang membuat aku selalu berfikir hal aneh itu.

Jika ada keramaian, di situ pasti ada Kania. Terutama pada saat acara perlombaan di sekolah kami. Kania akan berada di barisan penonton paling depan, dan berseru meneriaki orang yang dia kenal yang ketika itu menjadi peserta lomba. Dia akan berteriak paling keras dengan suara cemprengnya tanpa menghiraukan rasa malunya. Itulah, Kania. Gadis ceria dan terheboh yang pernah kukenal selama hidupku.

Waktu itu, aku hanya diam, tidak memperhatikannya berteriak heboh di bangku penonton. Aku hanya menggelengkan kepalaku, bila melihat tingkah gadis itu.




Aku bahkan masih mengingat dengan jelas kejadian saat perlombaan yang diadakan sekolah pada musim gugur lalu.

Hari itu pertandingan basket, dan aku diamanahi tugas sebagai kapten tim basket sekolah kami. Saat pertama kali aku memasuki lapangan, aku dikejutkan oleh tingkah konyol gadis itu. Bagaimana mungkin kusebut hal itu tidak konyol? Kania lagi-lagi duduk di baris penonton terdepan bersama dua sahabatnya. Bella dan Angel. Mereka bertiga memakai baju berwarna merah terang dan berdandan heboh, sambil meneriaki tim kami. Sedangkan para siswa lain, hari itu mereka mengenakan baju olahraga berwarna putih. Sangat kontras, bukan?

Satu lagi yang membuatku berdecak sebal kala itu. Kania membawa spanduk besar bertuliskan “Defan, Saranghae!” sambil terus memegangnya tanpa merasakan lelah sedikitpun. Tiga gadis itu tidak memperdulikan tatapan siswa dari sekolah kami bahkan dari SMA lain ynag menghujami mereka. Mereka tetap saja melakukan aksi konyolnya.




Jujur, aku merindukan suara cemprengnya yang meneriakiku, ralat, menyemangatiku, saat itu.

—oOo—

Kania adalah salah satu murid berprestasi di kelas. Dua tahun berturut-turut, dia menduduki peringkat 2 di kelas kami. Sedangkan aku, selalu berada tepat di bawahnya. Itulah yang membuat semua murid akhirnya ramai-ramai menjodohkan kami, dan itu berhasil. Kania benar-benar menyukaiku. Aku tidak terlalu menganggap serius ejekan teman-temanku di kelas. Toh, berita itu bukan kabar besar. Tetapi, Kania menganggapnya serius, dia secara terang-terangan menunjukan perasaannya padaku sejak kami masih kelas 1 SMA.




Dia begitu mencolok di kelas kami. Guru-guru sangat mengenalnya, dan akibatnya, dia yang paling sering ditunjuk. Pada saat di depan kelas, dia akan dengan senang hati memamerkan senyum manisnya, dan dengan percaya diri menjawab bahkan menjelaskan materi pelajaran yang dibahas. Kania suka menjadi pusat perhatian.




—oOo—

Kania mempunyai suara yang merdu dibalik teriakan cemprengnya yang memekakan telinga orang yang mendengarnya. Dia pandai bernyanyi, terutama saat menyanyikan lagu Korea. Kania sangat menyukai segala hal yang berbau negeri ginseng tersebut.

Setiap malam, dia juga rutin menelponku. Meskipun aku mengabaikan telepon darinya, dia tidak menyerah. Bahkan hingga missed call mencapai puluhan dia tetap memaksa agar aku mengangkatnya. Dan akhirnya, aku menyerah, dan dengan terpaksa kuangkat telepon dari Kania.

Jika dia sudah lelah mengoceh lewat telepon, dia akan mengeluarkan kalimat andalannya yang bisa membuatku menanggapinya kemudian, meski enggan.

“Aku kan udah bilang sama kamu, kalau orang yang jarang berkomunikasi dan bersosialisasi dengan orang lain itu bisa ngerusak otak. Nanti kalau otak kamu korslet, gimana?”




Awalnya aku hanya menganggpa itu angin lalu. Namun, setelah sering aku mendengar kalimat itu, diam-diam aku mulai mencari tahu. Berawal dari iseng ingin mencari tahu, aku menemukan sebuah artikel di internet yang membenarkan ucapan Kania. Bahwa kurang berkomunikasi akan menyebabkan kerusakan jaringan pada otak.




Terkadang, di dalam telepon itu dia bernyanyi untuk menghilangkan rasa bosannya karena aku terus bertingkah acuh padanya. Tetapi, tidak ada yang tahu, jika secara tak sadar, aku menekan tombol ‘rekam’ saat mengangkat telepon darinya. Hingga hasil rekaman itu menumpuk di memori ponselku tanpa ada niat untuk membukanya.




Kini, hampir setiap malam, aku menyetel rekaman suara Kania yang kurindukan.

—oOo—

Setiap pagi, tepatnya saat istirahat pertama, Kania selalu menyempatkan untuk menghampiriku yang duduk di depannya. Dia akan terburu-buru sebelum aku meninggalkan kelas, lalu menyerahkan sekotak bekal berisi bento. Meski aku selalu menolak pemberiannya, tetapi gadis itu tetap kekeuh, dengan keras kepalanya memaksaku. Dan aku lagi-lagi menyerah setelah mendengarnya merengek seperti bayi yang meminta permen pada ibunya.




Kuakui, Kania pintar memasak. Tapi, mengapa dulu aku selalu menolak makanannya, dan memberi makanan itu pada teman-temanku, tanpa menyentuhnya sama sekali. Itu dulu, ketika kami kelas 1. Aku bahkan tidak pernah menyentuh atau merasakan bento itu sedikitpun. Kania pernah memergokiku ketika aku melempar sekotak bento itu pada teman-temanku ketika di kantin, dulu. Kulihat dia kecewa melihatnya. Tetapi keesokan harinya, dia masih tetap memberiku kotak dengan makanan yang sama.




Terkadang aku heran, gadis itu tidak pernah merasakan rasa sakit, atau... memang dia terlalu pandai menutupi perasaanya pada orang lain di sekitarnya? Aku salut terhadap sikapnya. Aku juga berfikir, aku dapat menyebutkan semua kegemarannya, tingkah dan polah gadis itu, kebiasaannya ketika di kelas, bahkan mungkin yang tidak disadari gadis itu. Apa mungkin, aku telah mengamatinya jauh sebelum dia menyukaiku? Dan tanpa aku sadari, dari dulu, pertama kali aku mengetahui namanya saat perkenalan di kelas, aku sudah menaruh hati padanya. Pada gadis itu, Kania.




—oOo—

Hal yang tidak kuduga sebelumnya, terjadi pada Kania. Pagi itu, kulihat ada sesuatu yang aneh menimpa gadis itu. Wajahnya terlihat murung, tidak seperti biasanya. Kania yang setiap pagi menyapaku, pagi itu dia hanya diam menunduk di bangku kelasnya. Aku bingung, tapi terlalu gengsi untuk menanyakan kabar gadis itu. Jadi aku juga diam, duduk di depan gadis itu, dengan perasaan cemas yang berkecamuk di dada.




5 menit sebelum bel berdering, dia keluar dari kelas. Aku masih tetap diam, tak bersuara. Sekilas, saat gadis itu melewati kursiku, aku melihat wajahnya yang cukup pucat. Dia menunduk, tidak menghiraukan pertanyaan teman-temannya yang menghalangi jalannya. Lalu menghilang ditelan pintu kelas. Dan aku masih tidak melihatnya hingga pelajaran pertama berakhir.

Aku memang lelaki pengecut. Hati dan bibirku tidak sejalan. Meski aku ingin menanyakan keadaan gadis itu, nyatanya bibirku hanya diam, bertindak acuh seolah tidak peduli.



Pada jam berikutnya Kania memasuki kelas. Syukurlah, wajah gadis itu tidak sepucat tadi pagi. Dia sudah terlihat seperti Kania yang biasanya, walaupun kutahu, dia seperti terpaksa bersandiwara. Padahal dari air mukanya aku bisa membaca “Aku tidak baik-baik saja,”

Dia tersenyum padaku, lalu berkata, “Def, hari ini aku gak bawa bento buat kamu. Kamu gak papa, kan? Nanti kamu beli makanan aja di kantin,” ujarnya tersenyum. Aku balas tersenyum, kemudian mengangguk. Dalam kondisinya yang sedang sakit, dia masih tetap memikirkan orang lain.

Tanpa kusadari, aku beranjak dan duduk di bangku sebelah Kania. Aku diam memperhatikan gadis itu. Dia menceritakan kejadian tadi pagi, mengoceh tentang dokter sekolah dan anggota PMR yang payah, dan obat di UKS yang tidak lengkap. Aku diam, tetapi aku mencoba mengikuti kata hatiku. Tanganku beralih menyentuh keningnya, menyeka keringatnya yang dingin. Aku membelai wajahnya, lalu kalimat yang keluar dengan lancarnya dari bibirku membuatku tersentak.

“Kania, tolong, berhentilah suka padaku. Karena aku tahu, mencintaiku hanya membuat kamu menderita. Aku tidak ingin terus membuatmu menderita dan menangis sepanjang hari. Aku tidak bisa,”

Kania tersentak, lalu menatapku terkejut. Aku melanjutkan, “ Kita sudah kelas 3, aku gak mau kamu terbebani tentang aku, aku ingin kamu lupain aku, dan jangan bermain-main lagi. Buktiin sama aku, kalo kamu bisa capai cita-cita kamu. Dengan, atau tanpa aku disisi kamu,”

Bodoh! Aku mengutuk habis-habisan semua kalimat itu. Tidak! Aku tidak ingin dia menjauh, munafik jika aku menginginkannya!

Kania diam, lalu dia mengangguk. Dan tersenyum.

“Oke. Aku akan mencoba melupakan kamu. Meski aku gak mau tahu, alasan kamu berkata begitu,”




Aku mencoba mengikuti kata hatiku, aku membiarkannya memelukku. Pelukan pertama dari Kania. Dan sejak saat itu, aku berharap, jika itu bukanlah pelukan terakhir dari gadis itu.

—oOo—

Kabar tentang Kania yang sudah tidak lengket denganku lagi, menyebar pesat. Pasalnya, aku yang kapten tim basket memang membuat semua siswa di sekolah mengenalku. Kania sudah tidak melakukan kebiasaanya lagi. Tetapi mengapa, rasanya, bukan ini yang kuinginkan, aku merasa kehilangan. Rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga.




Berita keberangkatan Kania ke Jepang merebak di sekolah. Kania mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan study-nya hingga S2 di sana. Aku gembira mendengar kabar itu sekaligus sedih. Itu artinya, akan semakin membosankan hari-hariku berikutnya jika tidak melihat gadis itu.

Dan hari itu tiba, hari keberangkatan Kania ke Jepang. Aku mengantarnya hingga pintu penerbangan. Dia menahan tanganku dan berkata, “Kalo kamu bilang, aku jangan pergi, aku gak akan pergi, Def,” katanya menggenggam tanganku. Tapi aku tidak ingin menahannya. Aku tidak ingin menghalangi cita-citanya menjadi Desainer terkenal. Jadi aku tetap menyuruhnya pergi. Meski aku tidak rela. Aku telah memikirkan tentang satu hal malam harinya. Aku akan menunggunya. Ya! Aku akan menunggu Kania hingga gadis itu menyelesaikan study-nya.

Aku memeluknya lalu meyakinkannya bahwa aku akan menunggunya. Hari itu, untuk pertama kalinya aku mengungkapkan suatu hal yang sakral dalam hidupku. Setelah dia kembali, aku akan langsung menikahinya. Dia mendongak dan mengecup pipiku. Dia berujar “Amin,”.




Aku melambai untuk terakhir kalinya saat dia berada di ujung pintu pesawat. Kemudian aku mentekadkan hati dan langkahku. Aku hanya menginginkan dia. Maka aku juga harus berhasil bersamanya.

—oOo—

2 September 2010




Aku sedang membaca koran pagiku saat kulihat berita menggemparkan itu. Aku melonjak. Mataku mendelik lebar-lebar, kemudian aku segera berlari menuju satu tempat. Bandara.




Semua orang berlalu lalang mencari tahu kabar sanak saudaranya. Termasuk aku. Aku bersama semua orang yang menyayangi Kania, dikejutkan oleh berita dari pihak penerbangan. Pesawat yang ditumpangi Kania dan 215 orang lainnya jatuh di perairan Laut Cina Selatan ketika menuju ke Jepang.

Aku hampir limbung saat itu. Padahal 10 jam lalu, aku masih melihat senyumnya. Aku masih dapat memeluknya.




Tuhan! Kumohon, jangan seperti ini!




~

“Kamu simpan baik-baik ya, kalung ini. Ini kalung kesayanganku, nanti waktu aku balik ke Indonesia, kamu harus ganti kalung ini jadi cincin nikah kita,”

“Def, kamu bisa sering-sering main ke rumahku. Mamah sama papah akan membuka lebar-lebar pintu rumah buat kamu,”

“Aku sayang kamu,”

“Saranghaeyo, Defandra Syahilan Putra,”

~




Seperti yang Kania bilang, aku jadi sering mengunjungi rumahnya. Aku juga tak pernah absen ke makamnya.

Dia ... Kania. Gadis yang kucintai, dan dengan sabarnya mencintaiku.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Contoh Cerpen tentang kehilangan

0 komentar:

Post a Comment

Kepada para pembaca, jika ada sesuatu yang berkesan maka silahkan berkomentar