Situs Pustaka Belajar

Contoh cerpen tentang Pengantin Wanita

loading...
Advertisement


loading...

Contoh cerpen tentang Pengantin Wanita


10 hari sebelumnya

“Apa gaun ini pantas untukku?”

“Wow!! Kamu sangat cantik!” Puji laki-laki itu. Namun dia benar soal kecantikan yang dimiliki oleh wanita tersebut. Kecantikan yang tersembunyi dibalik peampilannya yang sederhana juga tatapan sendunya.

“Terima kasih. Tapi menurutku semua wanita akan tampak cantik dengan gaun pernikahan manapun. Karena itu sudah kodratnya.” Ujarnya sambil tersipu malu.

“Tapi bagiku kamu pengantin wanita yang paling cantik, Titania.”

“Terima kasih, Adit.”

“Lebih cantik lagi kalo kamu jadi pengantin wanitaku.”

Hening… Titaniamemutar tubuhnya menghadap cermin panjang yang terjulur hingga ke lantai. Disana ia melihat sosok wanita muda berparas mungil dan berwajah manis memakai sebuah gaun putih yang menjuntai kebawah menutupi kakinya. Tiap lekukan tubuh dihiasi oleh manik-manik, corak-corak gambar sulur dan bunga, juga berlian-berlian kecil menghiasi pinggang rampingnya, namun sosok itu terlihat tak sempurna. Bayangan itu terlihat sendu dan ragu dibalik senyumannya.

“Ngomong apa sih kamu? Ngaco deh!” Titania membalas ungkapan Adit dengan senyum mencibir, seolah-olah itu lelucon baginya.

“Aku sungguh-sungguh Tan! Aku itu…”

“CUKUP!!”ucapnya dengan wajah dingin.

“Aku harap kamu berubah pikiran.”

Titania terdiam mendengar Adit. Bahkan ia sendiri sebenarnya ragu. Ragu dengan perasaannya. Tapi ia tidak bisa mundur. Azka adalah laki-laki yang tepat untuknya. Hanya dia yang mau menerima kondisinya dan mengerti bagaimana kekurangannya. Hanya Azka yang membuat Titania menerima masa lalunya.

Hanya Azka.

Iya. Adit belum tahu siapa dirinya. Belum tentu juga Adit akan tetap menyukai Titania jika ia tahu masa lalunya. Tapi untuk saat ini, hanya untuk saat ini, Titania hanya ingin melihat Adit. Hanya melihatnya sebagai seorang teman.

“Makasih udah nemenin hari ini.” ucapnya setelah berganti pakaian.

“Sama-sama. Aku senang bisa bantuin kamu. Jangan sungkan lagi buat minta tolong! —

“…dan yang tadi itu,”lanjutnya,”Omonganku, tolong lupain! Aku seharusnya gak ngomong gitu. Itu bikin kamu gak nyaman. Maaf Tan, aku tadi hanya terbawa perasaan sesaat.”

Hanya perasaan sesaat katanya?pikir Titania.

“Abis ini kamu mau kemana, Tan?” tanya Adit lagi.

“Aku mau dinner bareng Azka. Kamu mau gabung sama kita? Yaa… itung-itung sebagai ucapan terima kasih karena udah bantuin buat hari ini.”

“Thanks, tapi aku ada janji sama temenku malam ini.”

“Kalo gitu aku pergi dulu. See you Dit.” Ujarnya seraya tersenyum dan masuk kedalam taksi.

Adit menatap kepergian Titania. Dalam hatinya berharap bahwa taksi itu akan berhenti dan Titania akan keluar dari taksi. Kemudian ia akan berlari pada Adit, namun itu hanyalah khayalan semata. Titania takkan berhenti. Tidak akan.

7 hari sebelumnya

“Woyy…bengong aja lu!!”

“Apaan sih Dara? Ngagetin aja deh!”

“Abis lo ngapain bengong di depan rumah malam-malam begini? Kesurupan tau rasa loh!!” ujarnya seraya menyambar biskuit.

“Aku lagi mikirin sesuatu!” jawab Titania yang terus memandang jauh kedepan.

“Apaan? Cerita dong?”

“Kamu tau’kan kalo aku ketemu sama Adit lagi sebulan lalu dan sebulan itu kita cukup deket. Gara-gara itu aku jadi ngerasa bingung sama perasaanku sendiri. Aku gak tau apa ini karena keadaan atau memang dari dulu aku gak pernah berhenti suka sama Adit?

“Kamu tau sendiri kalo Adit itu cinta pertamaku dan cuman dia cowok yang bikin aku nyaman, Ra. Disisi lain, aku gak bisa milih dia karena sekarang ada Azka. Aku gak bisa tinggalin Azka, dia selalu ada pas aku lagi terpuruk dan bahagia. Aku juga ngerasa nyaman banget sama dia.”

“Terus perasaan lo sendiri gimana?”

Titania menoleh dan berkata, “Perasaan gimana maksud kamu?”

Dara menghembuskan nafas berat kemudian ia meletakkan toples berisi biskuit itu ke atas meja. “Perasaan lo ke Azka gimana? Terus mana yang lebih lo cintai? Azka atau Adi?”

“Aku…” Titania menundukkan kepalanya, seolah-olah jawaban itu ada dibawah,”lebih cinta sama Azka. Tapi aku masih suka sama Adit.”

“Yaelah…. Menurut gue nih, mending lo pilih Azka daripada Adit. Karena Azka udah tau seluk beluk kehidupan lo, nah Adit sendiri belum tahu’kan kehidupan lo seperti apa? Gue sih khawatirnya Adit gak bisa nerima lo apa adanya.”

Titania terdiam memikirkan pendapat Dara dalam-dalam. Aku juga mikirnya gitu, Ra.

“Tapi gimana kalo akhirnya Adit mau nerima aku? Beberapa hari yang lalu dia bilang kalo berharap banget aku berubah pikiran.”

“Whatt??? Serius dia ngomong gitu?”

Titania mengganggukan kepalanya singkat.

“Ya udah deh. Gak usah mikirin hal itu! lo tuh udah mau nikah sama Azka jadi gak boleh mikir yang macem-macem.” Dengan lembut Dara menarik tangan Titania dan menyakinkannya, “Percaya sama gue! Azka itu yang cowok yang paling baik. Dia bakalan bahagian lo, mencintai lo dan ngejagain lo. Jujur, kalo bukan Azka gue gak akan rela lepasin lo. Karena mengingat masa lalu lo itu bikin gue skeptis dan gak percaya sama cowok. Gue sayang banget sama lo Tan, lo kayak saudara gue sendiri. Meskipun gue gak ngalamin yang elo alamin tapi sebagai sahabat yang hampir 10 tahun kenal sama lo, gue ngerasain yang elo rasain.”

Mata Titania berkaca-kaca.Ia tak dapat berkata-kata, terharu dengan ucapan sahabatnya. Dara memang bukan saudaranya tapi ia dan Dara sudah berbagi banyak hal. Meskipun banyak perbedaan diantara mereka namun hal itu tidak membuat persahabatan mereka goyah. Sebaliknya, persahabatan mereka tetap awet sampai sekarang.

“Gue pengen lo dapetin yang terbaik karena elo pantes dapetin semua itu. Elo udah ngalamin hal-hal buruk dan sekarang waktunya elo bahagia, Tan.”

Airmata Titania tak dapat ditahan lagi. Namun itu bukan airmata kesedihan. Itu adalah airmata bahagia dan syukur. Dia beruntung memiliki Dara, Azka dan Ibunya. Sedangkan Adit sendiri, anggap saja ia adalah bonus dari Tuhan.

“Makasih banget Dara. Makasih banget udah mau jadi sahabatku. Aku bener-bener gak tau harus ngucapin apa setelah semua yang kamu kasih ke aku…”

“Ssshhh… udah-udah.” Ujar Dara sambil menepuk-nepuk punggung Titania dengan lembut, mencoba untuk menenangkannya.

“Sekarang elo masuk gih! Udah malem dan dingin. Elo itu harus jaga kesehatan, sebentar elo nikah dan gak lucu’kan pas malam pertama elo sakit.” Ujar Dara lagi.

Spontan Titania melepas pelukannya dan mencubit tangan Dara. “Aww… gila lu ya! Kurus begitu nyubitnya sakit amat. Dapet tenaga dari mana sih loh?”

“Abis kamu tuh mesum. Cewek gak boleh mesum tau!” bela Titania manyun.

“hahaha… mana ada peraturan kayak gitu? Gak masalah cewek mau mesum atau enggak yang penting jangan dilakuin. Kalo cewek didunia ini pada polos kayak elo, gak bakal ada yang namanya pelacur.”

“Tau ah! Bodo. Aku mau masuk aja deh.” Kata Titania berlalu.

Dara terkekeh melihat tingkah laku sahabatnya seperti anak kecil itu. Walau Titania terlihat dewasa dan matang, tetapi tingkah lakunya masih seperti anak kecil yang mudah untuk digoda. Apalagi kalau mereka sudah berdebat, maka Titania-lah yang akan kalah dan kehabisan kata-kata melawan Dara.

Elo harus bahagia Tania! Harus! Gue gak bakal biarin elo disakitin sama cowok lain lagi. Gue janji Tania!, ucap hati Dara.

Hari Pernikahan

“Udah cantik kok! Gak usah diliat lagi, ntar kacanya pecah loh!” Dara tiba-tiba masuk ke dalam kamar rias pengantin.

“Wuiihhh… ternyata kamu bisa pake rok juga? Ciee… jadi keliatan cakep dan kayak cewek loh!!” goda Titania.

“Sialan loh! Elo pikir selama ini gue bukan cewek, gitu?”

Titania menjawab dengan sekali anggukan dan tersenyum lebar. “Kamu cantik Dar..”

“Elo juga. Ya bukan mau bilang kalo tiap hari elo itu keliatan jelek tapi kali ini elo cantik. Bener-bener cantik kayak bidadari keluar dari rumah sakit jiwa. Hhahaha”

“Ihhh… Dara. Kalo mau muji, muji aja napa. Gak pake ngejek gitu. Nyebelin tau!” dengus Titania seraya melemparkan bantal kecil.

“weiittss… Seorang pengantin itu gak boleh manyun gitu dong! Ini’kan hari yang paling membahagiakan.” Dara masih terlihat kesal,” Iya deh, iya. Elo pengantin paling canti sedunia akhirat dah. Puas lo!”

“Hehehe… gak pake akhirat kali.”

“Gimana perasaan elo?”

“Gak usah ditanya. Deg-degan tau!”

“Hehe.. iya juga ya. Oh iya, gue denger elo dapet telpon dari Adit ya?

Pasti Mama yang ngasih tau. Pikir Titania

“Iya, itu dari Adit, Ra.” Jawab Titania dengan suara mengecil.

“Ceritain! Apa aja yang kalian omongin?”

Titania menghela nafas panjang, “Dia masih belom nyerah, Ra. Dia bilang bakalan nunggu di bandara kalo aku milih dia. Tapi kalo enggak, dia bakal pergi dan gak bakal balik lagi.”

“Wah. Gila tuh orang! Udah tau elo gak milih dia masih aja ngejar-ngejar. Dasar keras kepala banget!” lanjutnya, “Tapi elo baik-baik aja’kan, Tan?”

Titania menggelengkan kepalanya. “Tenang aja. Meskipun masih ada perasaan suka sama Adit tapi bukan berarti aku bakalan lari dari Azka.”

“Tania…” seru seorang laki-laki.

“Adit? Ngapain kamu disini? Bukannya kamu itu …”

“Enggak. Aku ini’kan diundang sama kamu. Masa kamu lupa? Gak mungkin dong aku gak menghadiri acara pernikahan kamu, yang MUNGKIN bakalan batal.”

“Tunggu dulu-tunggu dulu! Elo jangan kepedean gitu deh! Titania gak bakal milih elo. Mending elo keluar deh daripada gue teriak terus elo digebukin.”

“Gue gak nanya sama elu Dara. Mending elu diem aja deh. Ini urusan gua sama Titania.”

“Eh elo itu res….”

“Udah, Ra. Aku bakalan nyelesein urusan ini. Kamu ke depan aja gih.”

“Tapi Titania, gue gak bisa ninggalin elo sama cowok beginian gue gak percaya sama dia!”

“Kalo gitu percaya sama aku, Ra!” ucap Titania berusaha menyakinkan.

Setelah menghembuskan nafas berat, alhirnya Dara menuruti ucapan Titania. Hanya tinggal dirinya dan Adit sekarang yang berdiri memandangi dirinya.

“Silahkan duduk, Dit!” ucapnya memecah keheningan.

Titania berdiri, mengambil tempat duduk didepan Adit. “Aku ingin memberitahumu sesuatu. Dan mungkin ini akan menjadi alasanku kenapa aku tidak memilihmu.”

“Baiklah. Aku akan mendengarkanmu.” Jawab Adit penuh kesiapan.

“Kamu masih ingat kapan kita ketemu pertama kalinya? Di kampus’kan? Ketika kamu berfikir baru menyukai, aku udah suka sama kamu pas kedua kali aku lihat kamu. Aneh ya?? Tapi begitulah nyatanya. Aku gak tau kenapa? Kehadiran kamu bikin hidupku lebih cerah daripada sebelumnya. Setelah semua masa-masa buruk itu tapi bukan itu yang ingin aku katakan,-

“Aku gak perawan lagi, Dit. Aku adalah seorang anak yang jadi korban kekerasan dan pelecehan oleh mantan ayah tiriku. Aku mengalami trauma berat dan dirawat di rumah sakit. Aku hampir sembuh namun gagal setelah aku diberitahu bahwa aku sedang hamil. Bayangin aja aku harus mengandung anak dari laki-laki bajingan yang udah merusak kehormatanku dan hidupku. Aku benci! Bener-bener benci bajingan itu, dan itu bikin aku benci dengan semua laki-laki. Aku putus asa dan merasa muak dengan hidup jadi aku mencoba untuk bunuh diri. Tapi gagal. Kemudian aku keguguran. Dokter bilang aku tidak bisa punya anak lagi. Aku hancur. Bener-bener hancur dan gila. Wanita mana yang sanggup nerima semua peritiwa yang mengerikan itu. Tepat saat itu Azka datang. Dia seperti cahaya matahari yang menghangatkanku. Dia selalu membuatku merasa nyaman saat aku ketakutan. Aku sembuh dari traumaku, itu karena bantuan Azka. Cuman Azka yang aku butuhkan. Meskipun masih ada rasa untukmu, tapi rasa nyamanku dan butuhku lebih besar daripada rasa menyukaimu.

“Setelah semua yang aku ceritakan, apakah kamu masih sanggup untuk menerimaku? Tidak’kan?” Titania berdiri kemudian berbalik menuju pintu, “Kalau begitu aku harus pergi. Acaranya sudah dimulai. Selamat tinggal Adit.” Lanjutnya.

Adit masih terdiam mendengar cerita Titania. Ia tidak tahu harus bagaimana. Apakah ia harus menolak untuk percaya atau menerima cerita itu? Kenapa dia merasa Titania tidak layak untuknya? Apakah sebesar itu perasaannya? Apakah ia menyukai Titania karena syarat dan alasan? Adit masih termangu, menatap dunia luar dari jendela kecil tempatnya ia berdiam diri. Titania pantas mendapatkan Azka, ucapnya dalam hati.
Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Contoh cerpen tentang Pengantin Wanita

0 komentar:

Post a Comment

Kepada para pembaca, jika ada sesuatu yang berkesan maka silahkan berkomentar